Pages

Ads 468x60px

قصاد عيني



وبينا معاد
لو احنا بعاد
اكيد راجع ولو بيني وبينه بلاد

وبينا معاد
لو احنا بعاد
اكيد راجع ولو بيني وبينه بلاد

قصاد عيني في كل مكان
قصاد عيني في كل مكان

ومن تاني اكيد راجعين
أنا دايب وكلي حنين
ولا عمري أبيع لو مين
قصاد عيني
ومش قادر على الأيام
ولا يوصف هويا كلام
وطول ليلي ولما بنام
قصاد عيني

قصاد عيني في كل مكان
قصاد عيني في كل مكان

في يوم هنعود
ده بينا وعود
و في غيابه اكيد لسه الأمل موجود

في يوم هنعود
ده بينا وعود
و في غيابه اكيد لسه الأمل موجود

قصاد عيني في كل مكان
قصاد عيني في كل مكان

ومن تاني اكيد راجعين
أنا دايب وكلي حنين
ولا عمري أبيع لو مين
قصاد عيني
ومش قادر على الأيام
ولا يوصف هويا كلام
وطول ليلي ولما بنام
قصاد عيني

قصاد عيني في كل مكان
قصاد عيني في كل مكان

ومن تاني اكيد راجعين
أنا دايب وكلي حنين
ولا عمري أبيع لو مين
قصاد عيني
ومش قادر على الأيام
ولا يوصف هويا كلام
وطول ليلي ولما بنام
قصاد عيني

قصاد عيني في كل مكان
قصاد عيني في كل مكان

hebat sungguh ciptaan Allah

Dan katakanlah, "Segala puji bagi Allah, dia akan memperlihatkan kepadamu tanda-tanda kebesaran-Nya, maka kamu akan mengetahuinya. Dan Tuhanmu tiada lalai dari apa yang kamu kerjakan." (QS. An-Naml: 93)

Masyarakat zaman sekarang memperlakukan Al Quran berbeza sama sekali dengan tujuan penurunan Al Quran sebenarnya. Di dunia Islam secara umum, sedikit sekali orang yang mengetahui isi Al Quran.

Sebagian di antara mereka sering menyampul Al Quran dengan bagus dan menggantungnya pada dinding rumah, dan orang-orang tua membacanya sekali-sekala. Mereka beranggapan bahwa Al Quran melindungi pembacanya dari "kemalangan dan kesengsaraan". Menurut kepercayaan ini, Al Quran dianggap sebagai pelindung dari bala bencana.

Padahal, ayat-ayat Al Quran menyatakan bahwa tujuan Al Quran diwahyukan sama sekali berbeza dengan yang tersebut di atas. Misalnya, dalam surat Ibrahim ayat ke-52, Allah menyatakan, "(Al Quran) ini adalah penjelasan yang sempurna bagi manusia, dan supaya mereka mengetahui bahwasanya Dia adalah Allah Yang Maha Esa dan agar orang-orang yang berakal mengambil pelajaran." Dalam banyak ayat lain, Allah menegaskan bahwa salah satu tujuan utama diturunkannya Al Quran adalah untuk mengajak manusia bertafakur.

Dalam Al Quran, Allah mengajak manusia agar tidak mengikuti secara buta kepercayaan dan turun-temurun yang diajarkan masyarakat, agar merenung dengan terlebih dahulu menyingkirkan segala prasangka, dan batasan yang ada dalam pikiran mereka.

Manusia harus memikirkan bagaimana ia tercopta, apa tujuan hidupnya, mengapa ia akan mati, dan apa yang terjadi setelah kematian. Ia hendaknya mempertanyakan bagaimana dirinya dan seluruh alam semesta ini terjadi dan bagaimana keduanya terus-menerus ada. Selagi melakukan hal ini, ia harus membebaskan dirinya dari segala ikatan dan prasangka.

Jika seseorang berpikir-dengan membebaskan akal dan nuraninya dari segala ikatan sosial, ideologis, dan psikologis-pada akhirnya ia akan merasakan bahwa seluruh alam semesta, termasuk dirinya, telah diciptakan oleh sebuah kekuatan Yang Mahatinggi. Bahkan ketika mengamati tubuhnya sendiri atau segala sesuatu di alam, ia akan melihat adanya keserasian, perencanaan, dan kebijaksanaan dalam perancangannya.

Al Quran memberikan petunjuk kepada manusia dalam masalah ini. Dalam Al Quran, Allah memberitahukan apa yang hendaknya kita renungkan dan kita amati. Dengan cara perenungan yang diajarkan dalam Al Quran, seseorang yang beriman kepada Allah akan dapat lebih baik merasakan kesempurnaan, hikmah abadi, ilmu, dan kekuasaan Allah dalam ciptaan-Nya. Jika seorang beriman mulai berpikir sesuai dengan cara-cara yang diajarkan dalam Al Quran, ia pun segera menyadari bahwa seluruh alam semesta adalah sebuah tanda karya seni dan kekuasaan Allah, dan bahwa "alam semesta adalah karya seni, dan bukan pencipta karya seni itu sendiri." Setiap karya seni memperlihatkan keahlian pembuatnya yang khas dan unik, serta menyampaikan pesan-pesannya.

Dalam Al Quran, manusia diseru untuk merenungi berbagai kejadian dan benda alam, yang dengan jelas memberikan kesaksian akan keberadaan dan keesaan Allah beserta sifat-sifat-Nya. Dalam Al Quran, segala sesuatu yang memberikan kesaksian ini disebut "tanda-tanda", yang berarti "bukti yang teruji kebenarannya, pengetahuan mutlak, dan pernyataan kebenaran." Jadi, tanda-tanda kebesaran Allah terdiri atas segala sesuatu di alam semesta ini yang memperlihatkan dan menyampaikan keberadaan dan sifat-sifat Allah. Orang-orang yang dapat mengamati dan senantiasa ingat akan hal ini akan memahami bahwa seluruh jagat raya tersusun hanya dari tanda-tanda kebesaran Allah.

Sungguh, adalah kewajiban bagi manusia untuk dapat melihat tanda-tanda kebesaran Allah…. Dengan demikian, orang tersebut akan mengenal Sang Pencipta yang menciptakan dirinya dan segala sesuatu yang lain, menjadi lebih dekat kepada-Nya, menemukan makna keberadaan dan hidupnya, dan menjadi orang yang beruntung dunia dan akhirat.

Segala sesuatu, tarikan napas manusia, perkembangan politik dan sosial, keserasian kosmis di alam semesta, atom yang merupakan materi terkecil, semuanya adalah tanda-tanda kebesaran Allah, dan semuanya berjalan di bawah kendali dan pengetahuan-Nya, menaati hukum-hukum-Nya.

Tanda kebesaran Allah di alam semesta ditegaskan dalam surat An-Nahl:

"Dia-lah Yang telah menurunkan air hujan dari langit untuk kamu, sebagiannya menjadi minuman dan sebagiannya (menyuburkan) tumbuh-tumbuhan, yang pada (tempat tumbuhnya) kamu menggembalakan ternakmu. Dia menumbuhkan bagi kamu dengan air hujan itu tanaman-tanaman; zaitun, korma, anggur, dan segala macam buah-buahan. Sesungguhnya, pada yang demikian itu benar-benar ada tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang memikirkan. Dan Dia menundukkan malam dan siang, matahari dan bulan untukmu. Dan bintang-bintang itu ditundukkan (untukmu) dengan perintah-Nya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar ada tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang memahami-(nya), dan Dia (menundukkan pula) apa yang Dia ciptakan untuk kamu di bumi ini dengan berlain-lainan macamnya. Sesungguhnya, pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang mengambil pelajaran. Dan Dia-lah Allah yang menundukkan lautan (untukmu), agar kamu dapat memakan darinya daging yang segar (ikan), dan kamu mengeluarkan dari lautan itu perhiasan yang kamu pakai; dan kamu melihat bahtera berlayar padanya, dan supaya kamu mencari (keuntungan) dari karunia-Nya, dan supaya kamu bersyukur. Dan Dia menancapkan gunung-gunung di bumi supaya bumi itu tidak goncang bersama kamu, (dan Dia menciptakan) sungai-sungai dan jalan-jalan agar kamu mendapat petunjuk, dan (Dia ciptakan) tanda-tanda (penunjuk jalan). Dan dengan bintang-bintang itulah mereka mendapat petunjuk. Maka apakah (Allah) yang menciptakan itu sama dengan yang tidak dapat menciptakan (apa-apa)? Maka mengapa kamu tidak mengambil pelajaran?" (QS. An-Nahl, 16: 10-17)

Dalam Al Quran, Allah mengajak kaum berakal untuk memikirkan hal-hal yang biasa diabaikan orang lain, atau yang biasa dikatakan sebagai hasil "evolusi", "kebetulan", atau "keajaiban alam" belaka.

Sesungguhnya, dalam penciptaan langit dan bumi dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal, (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan penciptaan langit dan bumi (seraya berkata),

"Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Mahasuci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka." (QS. Ali 'Imran:191)

Sebagaimana kita lihat dalam ayat-ayat ini, kaum berakal melihat tanda kebesaran Allah dan berusaha memahami ilmu, kekuasaan, dan kreasi seni-Nya yang tak terhingga ini dengan mengingat dan merenungkan hal-hal tersebut, sebab ilmu Allah tak terbatas dan ciptaan-Nya sempurna tanpa cacat.

Bagi orang yang berakal, segala sesuatu di sekeliling mereka adalah tanda penciptaan.









"Sesungguhnya, Allah tiada segan membuat perumpamaan berupa nyamuk atau yang lebih rendah dari itu. Adapun orang-orang yang beriman, mereka yakin bahwa perumpamaan itu benar dari Tuhan mereka, tetapi mereka yang kafir mengatakan, "Apakah maksud Allah menjadikan ini untuk perumpamaan?" Dengan perumpamaan itu banyak orang yang disesatkan Allah, dan dengan perumpamaan itu (pula) banyak orang yang diberi-Nya petunjuk. Dan tidak ada yang disesatkan Allah kecuali orang-orang yang fasik." (QS. Al Baqarah: 26)

Kisah Ayam & Lembu..

Seorang kaya duduk termenung di dalam sebuah restoran. Wajahnya sugul seperti memikirkan sesuatu.



"Kenapa semua orang mengatakan aku kedekut. Padahal semua orang tahu jika aku sudah tiada lagi di dunia nanti, aku akan memberikan semua harta kekayaanku kepada badan-badan kebajikan!" kata orang kaya tersebut kepada seorang pelayan.



Pelayan terdiam sejenak dan kemudian berbicara,"Akan saya ceritakan kepada tuan tentang kisah ayam dan lembu," Lalu dia pun bercerita..

Pada zaman dahulu, terdapat sekumpulan ayam dan lembu di sebuah ladang. Lembu begitu popular dan disenangi, sedangkan sang ayam tidak sama sekali. Perkara ini menghairankan sang ayam. Ia berasa cemburu dengan sang lembu.



Ia berkata kepada sang lembu, "Semua orang berkata begitu manis tentang dirimu dan mereka menganggap kamu murah hati, kerana setiap hari kamu memberi mereka krim dan susu. Tapi bagaimana dengan aku? Aku memberikan semua yang aku punya. Aku memberikan manusia dagingku. Aku turut memberikan mereka bulu-buluku. Bahkan mereka memasak dan membuat sup dengan kakiku untuk kesihatan. Tidak ada haiwan yang berbakti sebegitu banyak seperti itu. Kenapa aku masih tidak dihargai?"



"Adakah tuan tahu apa jawapan sang lembu?,"tanya si pelayan itu kepada orang kaya tersebut. Orang kaya yang mendengar cerita itu dengan penuh minat hanya menggeleng kepala.



"Sang lembu berkata tenang, "Mungkin kerana aku memberikannya sewaktu aku masih hidup..."





Moral:


Berbuatlah kebajikan sementara kita masih hidup dan sihat. Jangan menunggu tika kita sudah meninggal dunia, baru mengharapkan orang lain utk berbuat kebajikan atas nama kita. 
mari kita recheck diri kita..^_^**

kasih ke syurga

"Enti menangis..?"
"Untuk apa ana menangis, bukankah enta selalu pesan, jangan menangis kerana manusia."
"Habis, mata enti berair?"
"Mata ana masuk habuk. Kebelakangan ni, selalu sangat mata ana ni berair." Aku tersenyum. Alasan ni dah lapuk sebenarnya, seingat aku semasa aku berumur 7 tahun, aku sudah tidak percaya alasan 'masuk habuk' yang menyebabkan mata seseorang berair. Filem-filem Melayu yang mengajar aku.
"Ana tahu enti menangis.."
"Tidak…!! Tak faham-faham ke?!" Dia tiba-tiba membentak.
"Oklah.. oklah.. mata enti masuk habuk. Ginilah, kapal terbang akan bertolak besok pukul 7.00 petang. Kalau enti nak hantar pun hantarlah. Kalau tak nak pun, kapal terbang tu tetap akan bertolak. Ana pergi cuma 2 tahun, tak lama.."
"Insya-Allah ana akan hantar. Tapi kalau ana tak hantar pun, ana harap enta tidak kecil hati. Ana takut berlalu fitnah. Maklumlah, kita bukannya diikat dengan ikatan yang sah lagi. Sekadar pertunangan…"
"Pertunangan bukannya ikatan yang sahkah..?"
"Bukan itu maksud ana, namun setidak-tidaknya ia kan boleh putus bila-bila masa sahaja. Sekali dihempas ombak, sekali pantai berubah.."
"Pantai berubah kerana ombaklah tunangnya. Cuba jika bulan menjadi gerhana, atau matahari hilang sinarnya, berubahkah pantai?" Aku berfalsafah. Dan memang dia akan selalu kalah kalau beradu bahasa denganku. Temannya yang sering dibawa apabila berjumpa denganku tergelak kecil. Satu sokongan moral untukku.

"Enta punya pasallah. Ana nak pergi. Jumpa lagi besok. Assalamualaikum.." Aku tidak menjawab salamnya. Bukankah menjawab salam dari seorang wanita yang bukan mahram hukumnya makruh?

…………………………………………

"Ana tak setuju dengan pandangan ustaz!!" Seorang muslimah bangun membentak. Aii.. ada juga yang berani rupanya.
"Bukankah demokrasi telah lama memperdayakan kita? Adakah Rasulullah SAW berjuang untuk mendapatkan kuasa baru dilaksanakan syariah seperti yang terdapat dalam hukum demokrasi..?" Dia berhenti seketika. Mengambil nafas rasanya. Ini baru kali pertama aku melihat dia bangun berucap di khalayak.

"Kalaulah demokrasi boleh gagal di Turki, boleh gagal di Algeria, kenapa tidak di negara kita? Ustaz bercakap terlalu yakin dengan demokrasi. Di mana pula komitmen ustaz terhadap pembinaan tanzim seperti yang diajar oleh Hassan Al-Banna dan Syed Qutb?" Suasana semakin bising. Apabila seorang pembentang kertas kerja seperti aku ditentang di khalayak ramai, ia satu kejanggalan yang ketara. Sekalipun Dewan Badar ini sudah cukup sejuk, namun ia tetap 'hangat' pada malam ini.

"Ana rasa ustazah sudah silap faham terhadap pandangan ana. Ana cuma ingin menyatakan, kadang-kadang demokrasi boleh digunakan untuk mendapatkan kuasa selagi mana diizinkan. Ciri demokrasi yang paling ketara ialah pemilihan pemimpin melelaui majoriti. Bukankah Abu Bakar sendiri dipilih melalui majoriti dan bai'ah? Bezanya, bai'ah dahulu dengan tangan, manakala sekarang dengan menggunakan kertas undi. Yang penting, kerelaaan!"

"Baiklah. Cuma ana ingin bertanya, adakah ustaz berpandangan bahawa demokrasi ialah satu-satunya cara untuk memastikan kedaulatan Islam di bumi kita?"
"Hmmm.. sehingga sekarang, ya. Kita masih boleh bergerak bebas, gunakanlah ruang yang ada sekadar yang termampu."
"Maaflah ustaz. Ana tidak mampu untuk bersetuju dengan pandangan ustaz." Dia menamatkan 'soalannya' lalu mengambil tempatnya kembali. Aku terkasima sendirian.

………………………………………

"Kau kenal dia Abdullah?" Aku memulakan pertanyaan yang sekian lama tertanam di dalam benakku. Abdullah berhenti menyuap nasi, memaku matanya ke wajahku. Sekarang aku nekad, sekurang-kurangnya aku harus mengenali orang yang begitu berani menongkah pendapatku di tengah khalayak. Suasana di restoran sup tulang yang biasanya sibuk dengan pelanggan malam ini nampaknya begitu lengang seolah-olah memberikan ruang yang cukup untukku berbicara dari hati ke hati dengan Abdullah.

"Ini kali pertama kau bertanyakan soalan kepadaku tentang perempuan. Hai, sudah kau jualkah prinsip kau selama ini. Kau kan tak mahu menjadi hamba cinta?!" Memang hebat Abdullah kalau diberikan peluang untuk menyindir. Mungkin dia terlupa bahawa dia hanya menumpang keretaku untuk datang ke sini atau dia sudah bersedia untuk balik dengan hanya berjalan kaki.

"Jawab soalan aku dulu.."
"Rupa-rupanya, manusia berhati batu macam kau pun tahu erti cinta…" Abdullah belum puas lagi menyindir nampaknya.

"Jawab soalan aku dulu.." Aku memohon untuk kali kedua.
"Baiklah Muhammad, aku tahu sejak malam tu kau sebenarnya ingin mengenali dia. Orang seperti kau ni Muhammad hanya akan 'kalah' dengan kaum yang spesis dengan kau saja. Maksud aku, yang boleh diajak berbincang tentang perkara-perkara yang kau minati yang kebanyakannya adalah membosankan!"
"Jawab soalan aku dulu.." Aku ulangi permintaanku untuk kali seterusnya.
"Ok.. dia, namanya kau sudah tahu. Seorang yang pendiam dan suka menulis. Menurut kakakku yang sebilik dengannya, dia ni sering bangun awal. Sebelum pukul 5 sudah di atas tikar sejadah. Bukan macam… "
"Aku? Hai.. kau ni silap tuju. Kau yang bangun lewat Abdullah.. ok, teruskan."
"Kalau kat asrama, dia ni suka baca Al-Quran, tak suka bersembang kosong, tak suka jalan-jalan dan banyak lagi yang dia tak suka.." Abdullah dengan selamba menceritakan segala-galanya.
"Lagi.. negatifnya?"
"Negatifnya.. banyak.." Abdullah tersenyum sejenak. Lalu menyambung,
"Negatifnya.. pelajaran dia agak sederhana. Tapi bagi aku, itu tidak menjadi masalah. Cuma.. aku tak pasti adakah kau akan setuju dengannya jika aku menyatakan sesuatu."
"Apa dia..? Negatifkah?"
"Tidaklah negatif sangat, namun bertentang dengan aliranmu. Dia terlibat dengan satu pergerakan… rahsia! Maksud aku, pergerakan yang memperjuangkan sesuatu yang tidak selari dengan undang-undang demokrasi."
"Gerakan militankah?"
"Mungkin, namun aku tak pasti. Sebab aktiviti mereka terlalu rahsia. Kau mungkin maklum, manhaj mereka berasaskan semangat 'hazar' yang dididik oleh gerakan Ikhwanul-Muslimin. Ketaatan mereka kepada amir mereka melebihi ketaatan mereka kepada sesiapa saja.. termasuklah ibubapa mereka sendiri!!"
"Sampai begitu sekali.. matlamat mereka?"
"Sama macam kau, memperjuangkan Islam! Tapi mereka lebih praktikal. Mereka dilatih dengan marhalah-marhalah tarbiyyah mereka sendiri. Dan mereka menyintai syahid. Tidak macam kita rasanya, kita bercakap tentang Islam, tapi kita berehat lebih banyak dari bekerja! Dan kau jangan terkejut kalau mereka sebenarnya mempunyai hunungan dengan rangkaian peringkat nasional malah antarabangsa termasuk gerakan Hamas dan Briged Aqsa di Palestin!"
"Kalaulah.. aku memilihnya menjadi teman hidupku, adakah ketaatannya kepada jemaahnya melebihi ketaatan kepadaku sebagai suami?" Aku mengutarakan soalan bonus untuk Abdullah.
"Aku pasti, dia akan memenuhi tanggungjawab sebagai isteri dan ibu. Namun kalau kau harap dia akan memecahkan rahsia gerakannya dan menderhakai bai'ahnya kepada jemaah, lebih baik kau bercinta dengan bulan sahaja!"

…………………………………………

Aku tidak tahu kenapa aku harus memilih dia. Dia bukanlah yang tercantik di bumi ini. Aku pasti. Tidak juga yang terkaya. Jauh sekali dari yang terbijak di dalam pelajaran. Namun aku yakin, dia yang terbaik untukku. Ciri-ciri muslimah sejati terserlah ketara pada dirinya yang membuatkan diriku terasa tenang sekali apabila memandangnya. Langkahnya yang teratur dan pandangannya yang dijaga adalah benih-benih keimanan yang terserlah dari hati yang dididik dengan ketaqwaan. Tapi persoalan yang dibangkitkan oleh Abdullah membuatkan aku termenung sejenak. Bolehkah aku hidup dengan orang yang berlainan aliran perjuangannya denganku. Bahagiakah aku?
"Ustaz sudah fikirkan masak-masak..?"
"Bukan setakat masak, ana rasa sudahpun rentung. Cuma bagi pihak ustazah, adakah ustazah setuju menerima ana. Maksud ana, dengan segala kekurangan yang ana miliki.”
"Ustaz orang famous. Siapalah ana. Ana rasa tak layak sebenarnya." Dia merendahkan diri namun dalam intonasi suara yang masih terkawal.
"Ini bukan soal famous atau tidak. Sekurang-kurangnya, sebelum ana ke bumi ambiya' ana sudah mempunyai 'ikatan' di sini. Dan ana memilih ustazah yang ana yakini boleh menjadi ibu kepada anak-anak ana nanti." Aku berterus-terang. Dari mana datangnya kekuatan untuk berbuat demikianpun aku tidak tahu.
"Ustaz tidak main-mainkan ana?"
"Hanya orang yang tidak ada perasaan sahaja yang sanggup main-mainkan perasaan orang lain."
"Jemputlah ke rumah, jumpa dengan ibu ayah ana.." Dia terus mematikan talian telefon. Pantas dan cepat. Kak Yang yang aku tugaskan untuk menjadi 'perisik'ku memang sudah memberikan amaran kepadaku, orang ini jarang sekali bergayut di telefon apatah lagi dengan lelaki bukan mahramnya.

…………………………………………

Sudah lima bulan aku di bumi ambiya', suasana pembelajaran di sini jauh lebih mencabar dari yang kuperolehi di bumi Malaysia. Benarlah kata orang, bumi ambiya' ini mengajar kita berdikari. Hilang seketika soal cinta dari benak fikiranku. Namun kekadang bayangannya tetap mendatangi ruang mata terutama ketika aku merebahkan badan. Namun seperti yang sering kutegaskan padanya..


"Mungkin cinta ana pada enti sudah cukup besar, namun cinta ana pada ilmu dan juga kepada Allah jauh lebih besar.." dan dia akan terus menyambung, "Mungkin ketaatan ana pada akh cukup dituntut, namun ketaatan ana pada perjuangan dan jemaah lebih-lebih lagi dituntut.."
Dan biasanya aku akan 'cemburu' dengan kata-katanya. Namun akan terus kubisikkan kepada diriku, bukankah dia taat kepada perjuangan dan kenapa aku harus cemburu. Dia juga berjuang dan perjuangannya juga kerana Allah. Cuma, apa yang menjadi rahsia ialah langkah-langkah pergerakannya yang sehingga kini masih menjadi misteri bagiku.

Hari itu, selepas menadah kitab Al-Umm dengan seorang senior di Rumah Melayu, aku bergegas ke Ciber Café yang menjadi rumah 'kedua'ku. Ku buka laman web Utusan Online, satu tajuk berita yang cukup menarik perhatianku, "SEORANG WANITA MALAYSIA TERLIBAT DALAM SERANGAN BERANI MATI DI TEL AVIV' Ku tinggalkan seketika pelayar web tersebut apabila satu lagi pelayar web menunjukkan mesej : "you have 1 unread message' namun jangkaanku meleset apabila inboxku hanya dihiasi dengan e-mail dari Abdullah dan bukan dari si dia yang kunanti-nantikan.

"Muhammad, kau apa khabar? Muhammad, aku ada satu khabar penting. Aku harap kau tidak terkejut. 'Dia' yang kau amanahkan padaku untuk 'tengok-tengok' telah diperintahkan bersama-sama kawan-kawannya untuk ke Palestin membantu Gerakan Briged Aqsa melakukan serangan istisyhadiah ke atas Israel. Ini kerana rakyat Malaysia yang memasuki Israel tidak akan disyaki apa-apa kerana dianggap sebagai pelancong. Muhammad, kau lihat tajuk berita hari ini, wanita yang terkorban dalam serangan istisyadiah itu ialah 'dia', tunang kau yang kau perintahkan untukku menjaganya.

Maafkan aku Muhammad..!!" Serta merta ku teringat panggilan telefon darinya beberapa hari yang lepas,
"Akhi, kalaupun cinta kita tidak bertaut di dunia, biarlah ia bertaut di syurga. Kerana cinta kita ialah cinta perjuangan..!!"
Seterusnya, aku rebah dari kerusi dan kudapati alam di sekelilingku gelap gelita!
The End~ Wassalam~